Minggu, 18 Desember 2011

BAU KETIAK ATAU BAU BADAN

Tubuh kita menghasilkan keringat yang dihasilkan oleh dua kelenjar, yaitu kelenjar akrin dan kelenjar apokrin. Kelenjar akrin ini memproduksi keringat bening dan tidak berbau yang dikeluarkan oleh tubuh kita sejak bayi.

Keringat ini muncul pada tubuh kita, seperti pada kening, tangan, punggung, dan hidung. Adapun kelenjar apokrin menghasilkan keringat di tempat-tempat tertentu, terutama di daerah perakaran rambut seperti di ketiak, kemaluan, dan bagian dalam hidung.

Kelenjar akrin menghasilkan keringat yang tidak berbau dan kandungan airnya lebih banyak. Fungsinya untuk menurunkan suhu tubuh pada kondisi tertentu.


Berbeda dengan kelenjar akrin, kelenjar apokrin lebih banyak menghasilkan keringat yang mengandung asam lemak jenuh dengan cairan lebih kental dan berminyak. Jika keringat yang dikeluarkan oleh kelenjar apokrin ini dihinggapi bakteri, dapat menyebabkan bau ketiak/bau badan pada manusia.

Tanda-Tanda

Keringat berbau asam, baik bau tersebut muncul dari badan atau ketiaknya.


Penyebab

  1. Reaksi antara keringat yang dihasilkan oleh kelenjar apokrin dan bakteri. Orang dengan kelenjar apokrin yang lebih besar, akan memproduksi keringat dalam jumlah yang lebih banyak sehingga proses pembusukan yang terjadi pun lebih banyak. Akhirnya, terciumlah bau tak sedap dari badan kita.
  2. Pengaruh faktor genetik, tetapi bisa diatasi dengan selalu menjaga kebersihan badan dan pakaian.
  3. Rambut ketiak dan rambut pubis (rambut kemaluan) juga bisa menjadi penyebab bau badan. Secara medis fungsi rambut ketiak dan rambut pubis adalah untuk memperluas permukaan dalam pengaturan penguapan keringat.
  4. Stres juga bisa mengaktifkan produksi keringat dari kelenjar apokrin.
  5. Kegemukan. Pada orang gemuk, keringat cenderung terperangkap pada lipatan-lipatan kulitnya.
  6. Sering mengonsumsi makanan yang kaya akan protein, seperti daging dan makanan-makanan lain yang berbau tajam.

Pencegahan

Berikut ini adalah tindakan yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya bau badan/bau ketiak yang membuat kita dan orang lain merasa tidak nyaman dengannya.
  1. Selalu menjaga kebersihan tubuh dengan mandi dan mengeringkan tubuh dengan baik minimal dua kali sehari.
  2. Menggunakan pakaian yang menyerap keringat sehingga keringat tidak tertinggal di lapisan kulit dan menjadi media yang baik untuk pertumbuhan jamur dan bakteri.
  3. Mengganti pakaian dalam secara teratur, minimal dua kali sehari dan lebih sering lagi jika banyak berkeringat.
  4. Menggunakan deodoran.
  5. Selalu membersihkan ketiak dengan sabun antiseptik setiap kali mandi.
  6. Selalu mengeringkan ketiak dengan handuk, tisu, atau lap kering kemudian membubuhkan bedak antiseptik.
  7. Banyak mengonsumsi buah, sayur, dan air putih sehingga menyebabkan keringat lebih encer (terutama pada daerah-daerah tertentu) dan bau badan pun berkurang.
  8. Menghindari makanan yang berbau tajam, seperti jengkol, petai, duren, dll. Jika harus tetap mengonsumsinya, imbangi dengan banyak meminum air putih.

Kamis, 15 Desember 2011

Kerajinan Kayu Blitar

Bila anda berkunjung untuk berziarah ke Makam Bung Karno di Blitar, jangan lupa membeli souvenir yang tersedia di sepanjang jalan menuju makam tersebut. Dari bermacam-macam souvenir yang ada salah satunya terdapat kendang yang asli produk pengrajin Blitar. Pusat kerajinan kendang Blitar sebetulnya tidak jauh dari Makam Bung Karno, hanya beberapa ratus meter arah utara dari makam, anda akan menjumpai banyak home industri kerajinan kayu.
Mengingat banyaknya pengrajin kayu, namun masing-masing kelompok (home industri) berbeda-beda yang dihasilkannya. Mulai dari kelompok yang khusus hanya menyediakan bahan baku kayu, kelompok tukang bubut kayu, kelompok pengukir kayu, sampai kelompok pemberi kulit pada kendang serta kelompok yang hanya melayani pemlituran kayu. Belum lagi kelompok yang memproduksi asbak, pot bunga, dan sebagainya. Dan ada juga yang bagian mengolah limbah dari kayu berupa tatal dan serbuk kayu yang digergaji, yang mana limbah itu dikemas sedemikian rupa yang selanjutnya dijual ke pabrik-pabrik sebagai bahan bakar.


Menurut Mas Irawan yang beralamat di Kelurahan Tanggung, salah satu anggota kelompok penyedia bahan baku kayu, dia pernah dalam waktu 2 minggu harus mengirim kendang ke Bali sebanyak 6000 buah. Dilihat dari cara pengerjaannya yang semua menggunakan alat atau mesin manual ternyata target 6000 kendang itu dapat terpenuhi. Tentu saja Mas Irawan tidak sendiri mengerjakan meskipun ditempatnya terdapat beberapa keryawan, dengan cara bagi-bagi kerjaan ke beberapa kelompok yang lain sehingga produk kendang dapat diselesaikan sesuai target.


Diakui Mas Irawan, bahwa pasar kendang Blitar bermuara di Bali dan Yogyakarta. Bisa diartikan pengrajin Blitar hanya sampai pada tahap pemasok barang-barang ke pasar tersebut. Belum sampai mengekspor atau mengirim langsung ke luar negeri. Dan harus legowo ketika produk kerajinannya ber label Made in Bali.


Berbeda lagi yang dikerjakan pengrajin kayu di Blitar selatan. Mereka specialis pengolah akar atau tunggak pohon jati menjadi meubeler dengan ukiran yang sangat indah ditunjang lagi dengan bentuk akar itu sendiri yang alami membuat karya mereka semakin bercitra seni tinggi. Lagi-lagi pasarnya ada di Bali.

WISATA DI BLITAR : Pantai Tambak Rejo

Blitar merupakan kota kecil yang terletak di bag. Selatan Jawa Timur. Berjarak sekitar 160 km. dari Surabaya. Rute yang biasa dilewati adalah Surabaya-Malang-Blitar atau Surabaya-Kediri-Blitar.

Wisata di Blitar cukup beragam, menarik dan menyimpan potensi yang besar, tak kalah dibanding dengan daerah-daerah lainnya. Meliputi wisata sejarah, wisata budaya, wisata religius, wisata kuliner dan wisata alam yang mempesona.

Seringkali kami (kel. Surabaya & kel. Kediri) dolan ke Blitar.
Ada adik kami (drh. Udin & drh Lina serta 2 balitanya) yang bermukim di Blitar. Jadi, kalo kami pengin wisata/jalan-jalan ke Blitar, langsung kontak adik. Adik selalu siap sedia menjadi guide dan rumahnya di Kademangan Blitar berubah jadi base camp kami.

Berikut catatan wisata kami, saat dolan di Blitar :


Pantai Tambak Rejo terletak di desa Tambak Rejo, Kec. Wonotirto, Kab. Blitar.

Rute menuju ke Pantai Tambak Rejo :
Ikuti jalan raya dari arah Kediri ke Blitar. Sampai di Blitar, setelah melewati jembatan besi yang besar dan kokoh (melintas di atas sungai Brantas), akan ditemui pertigaan, ambil belokan ke arah kiri. (Ada pos polisi di pojokan jalan). Ikuti terus jalan raya menuju ke arah Kec. Kademangan Blitar. Dari sini sudah banyak papan penunjuk jalan menuju ke Pantai Tambak Rejo.

Kami berangkat dari rumah Adik sekitar jam 08.00 pagi.
Perjalanan menuju pantai cukup menyenangkan dan menarik. Sudah banyak rambu-rambu penunjuk arah menuju Pantai Tambak Rejo, jadi tak perlu khawatir tersesat. Atau kalau ragu, bisa bertanya pada penduduk desa. Turunlah dari kendaraan, bertanya dengan sopan, arah jalan menuju Pantai Tambak Rejo. Mereka umumnya baik, ramah dan jujur.

Jalan menuju pantai melewati kawasan bukit-bukit yang gersang dan tandus, melewati kawasan hutan jati, jalan yang sempit menanjak dan belokan-belokan yang tajam. Harus ekstra hati-hati mengemudikan kendaraan.

Menjelang pantai, jalan menjadi berkelak-kelok melalui bukit-bukit kapur yang kering.
Lepas dari perbukitan kapur, tampaklah hamparan pantai dan putihnya ombak dari kejauhan. Wah, indah sekali.

Sampai juga kami di pintu gerbang pantai. Setelah membeli karcis masuk dan parkir kendaraan di tempat yang adem, kami segera memboyong perbekalan menuju ke pantai.

stirahat dibalik tebing karang yang perkasa. Tempatnya teduh, pasir pantainya terasa lembut dan bersih, diiringi hembusan angin pantai yang terasa sejuk semilir membuai.
Tempat yang ideal buat menggelar tikar, meletakkan perbekalan, lantas bersantai menikmati pemandangan.

Hari ini cukup banyak wisatawan yang berkunjung ke pantai Tambak Rejo. Mereka asyik berjalan-jalan di sepanjang pantai menikmati pemandangan yang indah. Beberapa perahu nelayan tampak berlabuh di pantai, berayun-ayun mengikuti alunan ombak pagi hari.

Adin, Naufal dan oom-nya Anton, langsung berlari menuju pantai. Ceria sekali mereka bercanda. Berlarian menerjang ombak, tertawa keras saat tubuh mereka dihantam deburan ombak dan berguling-guling di pasir pantai yang lembut dan basah.
MENIKMATI IKAN BAKAR DI TEPI PANTAI
Saat Adin, Naufal dan para oom-nya riang gembira berenang di pantai, kami gotong royong menyiapkan makan siang. Bekal nasi putih sudah kami bawa dari rumah, tinggal lauknya saja.

Di depan pantai tampak berjejer warung-warung kecil yang menjual ikan bakar. Dari jauh terlihat kepulan asap putih dari tempat pembakaran ikan. Ikan-ikan tongkol, salem dan tuna dijepit pakai kayu lantas dibakar. Wah, aromanya sungguh sedaappp..!!!
Adik Lina memborong ikan-ikan bakar buat lauk makan siang.

Saat kami kembali, Ibunda dan dik Yayuk sudah menyiapkan pembakaran ikan. Yap.. kami harus membakar lagi ikan-ikan yang telah kami beli agar tambah matang. Tak lupa kami menambahkan kecap dan bumbu agar ikan bakar terasa semakin lezat. Wah.. menu makan siang yang sangat nikmat.

Cukup lama juga Adin, Naufal dan Anton bermain-main di pantai. Berenang, bercanda dan berlarian mengejar ombak. Saat mereka tampak kelelahan dengan badan kemerahan kena sengatan sang mentari, mas Fadjar segera memanggil untuk istirahat.

Di atas tikar, kami istirahat dan rame-rame santap siang. Menikmati ikan bakar yang gurih dan sedap. Rasa lelah dan suasana pantai yang indah membuat santap siang kami terasa sangat nikmat dan sangat lezat...!!! 


EKSPEDISI MENCARI PANTAI RAHASIA
Saat rame-rame makan siang, Dik Udin mengusulkan untuk melihat pantai yang tersembunyi di balik bukit.
"Wah, pantai rahasia...?!" Kami sangat antusias mendengarnya. Usul yang sangat menarik dan menantang.

Untuk menuju pantai yang tersembunyi, kami harus menaiki bukit yang terletak di sebelah tebing karang. Dengan semangat yang menggebu, kami rame-rame naik ke bukit yang cukup terjal.
(Ananda Hanif tidak ikut, tetap tinggal di pantai Tambak Rejo, dimomong sama Ibunda).

Beriringan kami mengikuti jalan setapak mendaki bukit. Wah, cape juga rasanya, kaki terasa berat melangkah ke depan. Tak lama kemudian kami sampai di bagian bukit yang berupa tanah datar.

Kami istirahat sejenak, melepas lelah. Dari sini pemandangan alam tersaji sangat indah. Hamparan lautan biru yang membentang hingga di batas kaki langit. Warna langit juga terlihat biru muda disaput awan tipis. Gulungan ombak saling kejar-mengejar menghantam tebing karang. Subhanallah, indah sekali.

Kami tak boleh lengah mengagumi indahnya alam, karena tanah datar di atas bukit ini berada di tepi jurang dengan lautan sebagai dasarnya.

Kami harus berjalan lagi mendaki bukit yang satunya. Pantai rahasia, dimanakah gerangan..???

Adin dan Naufal terlihat semangat sekali untuk menemukan pantai rahasia. Kaki-kaki kecilnya begitu ringan mendaki bukit. Para oom-nya tampak kerepotan mengimbangi kelincahan langkahnya. Sedangkan aku, seperti biasanya.. jalan santai sambil menikmati pemandangan yang indah.

Sampai di puncak bukit, kedua bocah kecil itu berteriak dengan lantang :"Ooooommmmm, pantainya ketemu....!!!!"

Tanpa menunggu lagi, Adin dan Naufal berlari melesat, menuruni bukit menuju pantai. Disusul para oom-nya dengan nafas yang tersengal, menuruni bukit dengan gembira. Pantai rahasia telah ditemukan...!!!!

Pantai yang indah. Jauh lebih indah dibanding pantai Tambak Rejo. Pasirnya putih, bersih dan halus. Ombaknya garang, deburannya saat menghantam pantai sungguh menggetarkan hati.
Pantai ini terlihat sepi dan tersembunyi. Kecantikannya bagai disembunyikan oleh dua bukit yang membentenginya.

Kami memandang keindahan pantai dengan penuh kekaguman. Sangat indah, sebanding dengan perjalanan yang sulit untuk menemukannya. Hanya tampak beberapa wisatawan yang mengunjungi pantai ini.
Tanpa membuang waktu, Adin, Naufal dan para oom-nya segera berlari menyongsong datangnya ombak. Tawa riang mereka makin menjadi di tengah suara deburan ombak yang berdentam. Aku menyaksikan keceriaan mereka di atas pasir putih sehalus beludru. Pantai yang indah, mempesona, alami dan tersembunyi. Kami bagaikan berada di pantai antah berantah.

Setelah puas bermain-main di pantai yang tersembunyi, kami segera kembali ke pantai Tambak Rejo. Mendaki bukit, melangkah dengan gontai, menuruni bukit dan kembali ke peradaban pantai Tambak Rejo.
Menjelang senja kami bersiap untuk pulang, meninggalkan keindahan pantai Tambak Rejo. Badan terasa lelah, namun kami merasa sangat senang dan bahagia. Liburan keluarga yang ceria dan mengesankan.

SELAMAT BERLIBUR DI PANTAI TAMBAK REJO BLITAR.
(Ernik S.)

Senin, 12 Desember 2011

Daging Ular Kobra, Selain Nikmat Juga Meningkatkan Stamina

indosiar.com, Yogyakarta - Ular kobra adalah binatang yang sangat berbisa dan bahkan mematikan. Namun bagi Guno Sarjono, warga Yogyakarta ular kobra justru disulap menjadi berbagai hidangan yang lezat mulai dari sate, soup, tongseng hingga burger.
Restoran milik Guno Sarjono yang terletak di Jalan Hayam Wuruk lain dari warung kebanyakan. Tidak akan ditemukan makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari, karena semua menu yang disediakan dibuat dari daging ular kobra. Ya daging kobra.
Mendengar namanya saja, mungkin banyak orang yang langsung merasa takut atau bahkan jijik. Namun di tangan Guno, daging kobra bisa diolah menjadi berbagai masakan yang lezat, yang disukai oleh warga Yogyakarta.
Buktinya setiap harinya, Guno harus menyiapkan 500 hingga 1000 ekor ular kobra. Disini, Anda bisa merasakan berbagai masakan daging kobra dengan harga satu porsi sekitar 8000 rupiah.
Menurut Guno, daging kobra banyak manfaatnya karena bisa dijadikan obat berbagai macam penyakit dan meningkatkan stamina tubuh. Selain disajikan sebagai masakan, Guno juga menyediakan obat ramuan khusus dari empedu ular kobra yang dicampur dengan arak dan madu.(Sudaryono/Sup)

Minggu, 11 Desember 2011

Durian

Durian adalah nama tumbuhan tropis yang berasal dari Asia Tenggara, sekaligus nama buahnya yang bisa dimakan. Nama ini diambil dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk tajam sehingga menyerupai duri. Sebutan populernya adalah "raja dari segala buah" (King of Fruit), dan durian adalah buah yang kontroversial. Meskipun banyak yang menyukainya, sebagian yang lain muak dengan aromanya.
Sesungguhnya, tumbuhan dengan nama durian bukanlah spesies tunggal tetapi sekelompok tumbuhan dari marga Durio.[1] Namun demikian, yang dimaksud dengan durian (tanpa imbuhan apa-apa) biasanya adalah Durio zibethinus. Jenis-jenis durian lain yang dapat dimakan dan kadangkala ditemukan di pasar tempatan di Asia Tenggara di antaranya adalahlai (D. kutejensis), kerantungan (D. oxleyanus), durian kura-kura atau kekura (D. graveolens), serta lahung (D. dulcis). Untuk selanjutnya, uraian di bawah ini mengacu kepada D. zibethinus.

Penyebaran

Pusat keanekaragaman durian adalah Pulau Kalimantan. Daerah-daerah sekitarnya juga memilki beberapa plasma nutfah durian, seperti Mindanao, Sumatera, dan Semenanjung Malaya meskipun tidak semelimpah Kalimlantan. Meskipun demikian, pengekspor utama durian adalah Thailand, yang mampu mengembangkan kultivar dengan mutu tinggi dan sistem budidaya yang baik. Tempat lain yang membudidayakan durian dengan orientasi ekspor adalah Mindanao di Filipina, Queensland diAustralia, Kamboja, Laos, Vietnam, India, dan Sri Lanka.
Di Filipina, pusat penghasil durian adalah di daerah Davao di Pulau Mindanao. Festival Kadayawan merupakan perayaan tahunan untuk durian di Davao City.

[sunting]Pemerian morfologi

Pohon tahunan, hijau abadi (pengguguran daun tidak tergantung musim) tetapi ada saat tertentu untuk menumbuhkan daun-daun baru (periode flushing atau peronaan) yang terjadi setelah masa berbuah selesai. Tumbuh tinggi dapat mencapai ketinggian 25–50 m tergantung spesiesnya,[3] pohon durian sering memiliki banir (akar papan). Pepagan (kulit batang) berwarna coklat kemerahan, mengelupas tak beraturan. Tajuknya rindang dan renggang.
Daun berbentuk jorong hingga lanset, 10-15(-17) cm × 3-4,5(-12,5) cm; terletak berseling; bertangkai; berpangkal lancip atau tumpul dan berujung lancip melandai; sisi atas berwarna hijau terang, sisi bawah tertutup sisik-sisik berwarna perakatau keemasan dengan bulu-bulu bintang.[4]
Bunga (juga buahnya) muncul langsung dari batang (cauliflorous) atau cabang-cabang yang tua di bagian pangkal (proximal), berkelompok dalam karangan berisi 3-10 kuntum berbentuk tukal atau malai rata. Kuncup bunganya membulat, sekitar 2 cm diameternya, bertangkai panjang. Kelopak bunga bentuk tabung sepanjang lk. 3 cm, daun kelopak tambahan terpecah menjadi 2-3 cuping berbentuk bundar telur. Mahkota bentuk sudip, kira-kira 2× panjang kelopak, berjumlah 5 helai, keputih-putihan. Benang sarinya banyak, terbagi ke dalam 5 berkas; kepala putiknya membentuk bongkol, dengan tangkai yang berbulu.[4] Bunga muncul dari kuncup dorman, mekar pada sore hari dan bertahan hingga beberapa hari. Pada siang hari bunga menutup. Bunga ini menyebarkan aroma wangi yang berasal dari kelenjar nektar di bagian pangkalnya untuk menarik perhatian kelelawar sebagai penyerbuk utamanya.[5] Kajian di Malaysia pada tahun 1970-an menunjukkan bahwa penyerbuk durian adalah kelelawar Eonycteris spelaea. Penelitian tahun 1996 lebih jauh menunjukkan bahwa hewan lain, seperti burung madu Nectariniidae dan lebah turut serta dalam penyerbukan tiga kerabat durian lainnya.[3][6]
Bunga durian, keluar langsung dari batang/cabang secara berkelompok
Buah durian bertipe kapsul berbentuk bulat, bulat telur hingga lonjong, dengan panjang hingga 25 cm dan diameter hingga 20 cm.[4] Kulit buahnya tebal, permukaannya bersudut tajam ("berduri", karena itu disebut "durian", walaupun ini bukan duri dalam pengertian botani), berwarna hijau kekuning-kuningan, kecoklatan, hingga keabu-abuan.
Buah berkembang setelah pembuahan dan memerlukan 4-6 bulan untuk pemasakan. Pada masa pemasakan terjadi persaingan antarbuah pada satu kelompok, sehingga hanya satu atau beberapa buah yang akan mencapai kemasakan, dan sisanya gugur. Buah akan jatuh sendiri apabila masak. Pada umumnya berat buah durian dapat mencapai 1,5 hingga 5 kilogram, sehingga kebun durian menjadi kawasan yang berbahaya pada masa musim durian. Apabila jatuh di atas kepala seseorang, buah durian dapat menyebabkan cedera berat atau bahkan kematian.
Setiap buah memiliki lima ruang (awam menyebutnya "kamar"), yang menunjukkan banyaknya daun buahyang dimiliki. Masing-masing ruangan terisi oleh beberapa biji, biasanya tiga butir atau lebih, lonjong hingga 4 cm panjangnya, dan berwarna merah muda kecoklatan mengkilap. Biji terbungkus oleh arilus (salut biji, yang biasa disebut sebagai "daging buah" durian) berwarna putih hingga kuning terang dengan ketebalan yang bervariasi, namun pada kultivar unggul ketebalan arilus ini dapat mencapai 3 cm. Biji dengan salut biji dalam perdagangan disebut ponggè. Pemuliaan durian diarahkan untuk menghasilkan biji yang kecil dengan salut biji yang tebal, karena salut biji inilah bagian yang dimakan. Beberapa varietas unggul menghasilkan buah dengan biji yang tidak berkembang namun dengan salut biji tebal (disebut "sukun").

[sunting]Keanekaragaman

Varietas lokal (kiri) dan klon D101 (kanan)
Durian sangat beraneka ragam. Sebagaimana disebut di muka, beberapa spesies selain durian benar (D. zibethinus) juga dianggap sebagai durian. Di Indonesia tercatat ada 20 spesies anggota Durio (dari hampir 30-an jenis), sembilan di antaranya dapat dimakan.[7][3]Durian yang benar pun memiliki banyak variasi. Lembaga penelitian di Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah merilis berbagai kultivar durian unggul. Selain itu terdapat pula ras-ras lokal yang dikenal baik namun belum mengalami tahap seleksi untuk meningkatkan kualitasnya.

Kamis, 08 Desember 2011

TANGGO DANCE

Tango is a dance that has influences on Magdanny Ibarra from European and African culture.[5] Dances from the candombe ceremonies of former slave peoples helped shape the modern day Tango. The dance originated in lower-class districts of Buenos Aires and Montevideo. The music derived from the fusion of various forms of music from Europe.[6] The word "tango" seems to have first been used in connection with the dance in the 1890s. Initially it was just one of the many dances, but it soon became popular throughout society, as theatres and streetbarrel organs spread it from the suburbs to the working-class slums, which were packed with hundreds of thousands of Europeanimmigrants, primarily Italians, Spanish and French.[7]
In the early years of the 20th century, dancers and orchestras from Buenos Aires travelled to Europe, and the first European tango craze took place in Paris, soon followed by London, Berlin, and other capitals. Towards the end of 1913 it hit New York in the USA, and Finland. In the USA around 1911 the word "tango" was often applied to dances in a 2/4 or 4/4 rhythm such as the one-step. The term was fashionable and did not indicate that tango steps would be used in the dance, although they might be. Tango music was sometimes played, but at a rather fast tempo. Instructors of the period would sometimes refer to this as a "North American tango", versus the "Rio de la Plata tango". By 1914 more authentic tango stylings were soon developed[which?], along with some variations like Albert Newman's "Minuet" tango.

In Argentina, the onset in 1929 of the Great Depression, and restrictions introduced after the overthrow of the Hipólito Yrigoyen government in 1930 caused tango to decline. Its fortunes were reversed as tango again became widely fashionable and a matter of national pride under the government of Juan Perón. Tango declined again in the 1950s with economic depression and as the military dictatorships banned public gatherings, followed by the popularity of rock and roll.
In 2009 the tango was declared as part of the world's "intangible cultural heritage" by UNESCO.[8]

[edit]Styles

Tango postcard, c. 1919
Tango Show in Buenos Aires
The Tango consists of a variety of styles that developed in different regions and eras of Argentina as well as in other locations around the world. The dance developed in response to many cultural elements, such as the crowding of the venue and even the fashions in clothing. The styles are mostly danced in either open embrace, wherelead and follow have space between their bodies, or close embrace, where the lead and follow connect either chest-to-chest (Argentine tango) or in the upper thigh, hip area (American and International tango).
Different styles of Tango are:
These are danced to several types of music:
  • Tango
  • Vals (the tango version of waltz)
  • Milonga (a related dance that usually has a faster tempo)
  • Tango Electronico
  • "Alternative tango", i.e. non-tango music appropriated for use in the dance of music
The "milonguero" style is characterized by a very close embrace, small steps, and syncopated rhythmic footwork. It is based on thepetitero or caquero style of the crowded downtown clubs of the '50s.
In contrast, the tango that originated in the family clubs of the suburban neighborhoods (Villa Urquiza/Devoto/Avellaneda etc.) emphasizes long elegant steps, and complex figures. In this case the embrace may be allowed to open briefly, to permit execution of the complicated footwork.
The complex figures of this style became the basis for a theatrical performance style of Tango seen in the touring stage shows. For stage purposes, the embrace is often very open, and the complex footwork is augmented with gymnastic lifts, kicks, and drops.
A newer style sometimes called tango nuevo or "new tango", has been popularized in recent years by a younger generation of dancers. The embrace is often quite open and very elastic, permitting the leader to lead a large variety of very complex figures. This style is often associated with those who enjoy dancing to jazz- and techno-tinged "alternative tango" music, in addition to traditional Tango compositions.